top of page
Search

Dealing With Money

  • Writer: Yawan Yafet Wirawan
    Yawan Yafet Wirawan
  • Aug 3, 2020
  • 5 min read

by Elizabeth O'Connor|ditulis bersama Aldi Darmawan Sie dan Yesika Aprilian


Quotes:

Disiplin memberi adalah disiplin yang dapat membuat kita mengetahui apakah uang telah menjadi berhala bagi kita, serta seberapa dalam uang telah menjadi berhala dalam hidup kita.

Pendahuluan

Uang merupakan hal yang penting untuk menunjang kehidupan manusia, tetapi uang bukan satu-satunya hal yang terpenting didalam kehidupan manusia. Uang dapat membawa kita kepada hal yang lebih baik, sebaliknya uang juga dapat membuat manusia terjerat dalam dosa. Menurut Robert J. Hastings, sebenarnya uang itu bersifat netral, tergantung bagaimana kita menanggapi fungsi dari uang itu sendiri,[1] hal ini diungkapkan juga oleh Elizabeth O’Connor didalam salah satu tulisannya yang membahas bagaimana mengelola uang.

Connor adalah seorang pengajar tambahan dalam bidang psikologi sosial dan perkembangan di Dowling College dan St. Joseph's College (Departemen Psikologi dan Pendidikan). Connor juga merupakan seorang penulis buku, salah satu buku yang ia tulis adalah Letters to Scatterred Pilgrims.


Ringkasan kutipan dari Letters to Scattered Pilgrims

Di dalam buku Classics Devotional, Elizabeth O’ Connor menceritakan perjalanan hidupnya ketika menjadi staff di Church of the Saviour di Washington, D.C.[2] Pengalaman hidup yang dipaparkan terkait pada waktu Elizabeth dan Gordon Cosby, yakni pendeta Church of the Saviour merintis sebuah Gereja. Pengalaman hidup yang diceritakan akan berfokus bagaimana mereka membangun disiplin rohani di dalam keanggotaan, khususnya tentang menangani uang.[3] Bagian ini akan mengajak setiap pembaca untuk merefleksikan kembali bagaimana selama ini kita menggunakan uang. Selanjutnya, Elizabeth juga membukakan bahwa ada hubungan yang erat antara bagaimana kita mengelola keuangan kita dengan keadaan spiritualitas kita.

Di dalam buku tersebut, Elizabeth membagikan pengalamannya serta memberikan nilai-nilai penting di dalam menangani keuangan, serta keterkaitan uang dengan hati kita. Elizabeth memulai ceritanya ketika dia bersama dengan anggota Gereja akan memulai sebuah disiplin untuk anggota internal dan jemaat terkait dengan perintisan Church of the Saviour. Kemudian, setiap anggota sepakat mendisiplinkan diri untuk memberikan persepuluhan dari total penghasilan mereka setiap bulan. Persepuluhan ini, akan mereka gunakan bagi pekerjaan misi dan masyarakat miskin di sekitar kota. Mereka melihat bahwa Persepuluhan bukan hanya berbicara tentang persembahan kepada Tuhan, lebih dari itu hal tersebut dapat menolong untuk mengatasi ketidakadilan di tengah masyarakat.[4] Reinhold Niebuhr, seorang teolog terkemuka pada jaman itu, memberikan saran yang membawa pemahaman mereka lebih dalam lagi tentang memberi, yakni melalui pemberian yang proporsional. [5]

Pemberian proporsional merupakan pemberian yang berdasarkan dengan dorongan dari Roh Kudus. Pemberian proporsional satu orang dengan yang lain dapat berbeda-beda sesuai dengan pimpinan dari Roh Kudus.[6] Seiring dengan bertambahnya kepercayaan kita kepada Tuhan akan masa depan kita, maka pemberian proporsional pun akan semakin bertambah. Maka melalui pemberian proporsional kita dapat melihat bahwa bagaimana kita mempersembahkan uang kita, terkait dengan kepercayaan kita kepada Tuhan.



Elizabeth mengungkapkan bahwa seiring berjalannya disiplin untuk menjalankan pemberian proporsional, ada dua fenomena yang terlihat. Fenomena pertama adalah beberapa orang akhirnya tidak lagi menjalankan disiplin ini. Sedangkan fenomena kedua, beberapa orang terus berjuang untuk dapat menjalankan disiplin ini, walaupun di tengah pergumulan yang ada.[7] Bahkan banyak orang juga yang tergerak untuk memberikan lebih daripada sekedar persepuluhan. Melalui pemberian proporsional, membuat batasan-batasan untuk memberi, dapat terdorong keluar.[8]

Elizabeth juga menceritakan kisah ketika Gordon berkhotbah mengenai menangani uang. Di dalam bagian ini, Gordon mengatakan bahwa kesetiaan kita kepada Kristus, berhubungan dengan bagaimana kerelaan kita untuk mempersembahkan hal-hal materi yang kita miliki.[9] Ia menambahkan bahwa dengan memberikan uang, kita dapat menang dari kuasa gelap yang menindas kita.[10] Gordon juga menegaskan iman kita tidak akan bertumbuh sampai kita memiliki sikap yang radikal kepada hal-hal materi yang kita miliki.

Mempersembahkan uang kita kepada Tuhan, seringkali menjadi suatu hal yang penuh pergumulan. Hal ini disebabkan karena sering kali kekuatiran dan ketidakpercayaan kita kepada Tuhan begitu menguasai kita. Begitu juga dengan setiap orang yang telah setia menjalankan disiplin untuk melakukan pemberian proporsional. Di tengah pergumulan itu, Elizabeth menyatakan bahwa penting bagi kita untuk terus mempertahankan standar disiplin yang telah dilakukan. Bagaimana cara kita untuk terus mempertahankan standar ini terkait dengan hubungan pribadi bersama Tuhan yang terus dipertahankan.

Elizabeth mengungkapkan dengan menjalankan disiplin memberi, ia bersama dengan komunitasnya diberikan banyak kesempatan untuk bertemu dan berdialog langsung dengan orang-orang miskin. Mereka semakin mengenali kebutuhan, kesedihan, dan pergumulan yang dialami oleh orang-orang miskin. Hal ini juga turut membawa mereka melihat bagaimana keajaiban Tuhan atas orang-orang miskin melalui setiap pemberian yang telah mereka lakukan. Seiring berjalannya waktu, hal itu juga membentuk Elizabeth bersama komunitas bagaimana mengelola keuangan mereka.

Hal yang menarik dari disiplin memberi adalah disiplin ini juga dapat membuat kita mengetahui apakah uang telah menjadi berhala bagi kita, serta seberapa dalam uang telah menjadi berhala dalam hidup kita. Melalui memberi, kita juga dapat menjadi perantara dimana berkat Tuhan tercurah bagi setiap orang-orang yang miskin dan terlantar.

Implikasi

Kisah Elizabeth bersama dengan komunitasnya, memberikan banyak pelajaran bagi kita yang hidup pada masa kini. Dengan uang, membuat kita dapat terjerat dengan keegoisan dan berbagai dosa lainnya. Namun, uang juga dapat menjadi perpanjangan berkat Tuhan bagi orang-orang yang miskin dan terlantar. Bagaimana kita menangani dan mengelola uang kita, juga sangat terkait dengan seberapa dalam spiritualitas kita dan seberapa besar kepercayaan kita kepada Tuhan.

Berdasarkan kisah Elizabeth, kita dapat mempraktikkan beberapa disiplin terkait dengan bagaimana kita menangani uang kita. Diantaranya kita perlu meminta hikmat dan kepekaan dari Tuhan untuk dapat mengetahui kehendak-Nya terkait dengan pemberian secara proporsional. Kita dapat melatih diri kita untuk memberikan persepuluhan di tempat dimana Tuhan mendorong kita untuk memberi persepuluhan. Kedua, mendorong diri kita untuk meluangkan waktu bertemu dan berdialog bersama dengan orang yang miskin dan terlantar. Melalui hal ini, kita dapat lebih memahami pergumulan mereka. Kita juga dapat melakukan Firman Tuhan seperti yang tertulis pada kitab Matius 6 : 19 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya”[11], dengan caramelatih diri kita untuk membeli dan membedakan barang yang kita butuhkan dan kita inginkan.


Pertanyaan Refleksi

- Jika kita diberikan uang senilai Rp. 10.000.000, apa yang akan kita lakukan dengan uang itu?

- Bandingkan cara kamu mengelola uang senilai Rp 10.000.000 dengan yang tertulis pada Matius 6 :19-24.

- Bagaimana anda mengidentifikasi harta di dalam hati anda dan kecintaan anda kepada uang?


Rancangan Program

- Berdoa meminta hikmat kepada Tuhan agar dapat mengelola keuangan dengan bijaksana dan dapat membedakan barang yang kita inginkan dan kita butuhkan. Selalu mengingat bahwa bagaimana kita mengelola keuangan kita terkait dengan hati kita (Mat 6 : 21).

- Melatih diri kita untuk mengucap syukur dan mencukupkan diri di dalam segala hal (Fil 4:11), salah satu caranya, yakni menghindari untuk membuka aplikasi-aplikasi online shop, agar tidak jatuh kepada pencobaan menginginkan barang yang tidak kita butuhkan.

- Membuat jurnal keuangan pribadi selama satu bulan, dan setiap akhir bulan, coba evaluasi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Contoh lain, dapat mengumpulkan nota pembelian barang-barang agar dapat menjadi evaluasi.

- Carilah teman untuk saling mengingatkan agar dapat mengekang pengeluaran yang tidak perlu supaya dapat memberi lebih kepada orang miskin.

- Mendisiplinkan diri untuk memberikan perpuluhan ke tempat yang sesuai dengan dorongan Roh Kudus.

- Meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan orang-orang miskin dan terlantar.

- Mencari tahu informasi tentang pelayanan misi yang membutuhkan bantuan doa dan dana.

[1]. Robert J. Hasting, My Money and God, (Nashvile, Tennessee: Broadman Press, 1961), 30 [2]. Elizabeth O’Connor, Devotional Classics : Selected Readings for Individuals and Groups, edited by Richard J. Foster & James Bryan Smith, (New York : HarperCollins, 1993), 275. [3]. Ibid. [4]. Ibid [5]. Connor, Devotional Classics, 276. [6]. Ibid. [7]. Ibid. [8]. Ibid. [9]. Elizabeth O’Connor, Devotional Classics : Selected Readings for Individuals and Groups, 277. [10]. Ibid. [11] Mat 6:19 (TB-LAI).

 
 
 

Comments


Join my mailing list

Thanks for submitting!

© 2023 by The Book Lover. Proudly created with Wix.com

bottom of page